Rabu, 19 Desember 2018

Jurnal Sains dan Teknologi ISTP Vol 10 No 01 edisi Desember 2018



FAKTOR PENGHAMBAT MOTIVASI  PEKERJA BANGUNAN
 DI KOTA MEDAN


Polin DR Naibaho, ST., MT (NIDN : 0102107401)

Dosen Prodi Arsitektur, Universitas Katolik Santo Thomas


ABSTRAK
Proyek pembangunan rumah tinggal sangat berkembang di kota Medan, terlebih pembangunan perumahan di kompleks, rumah mandiri dan perumahan berpagar (Gated Community). Dalam pelaksanaan pembangunan rumah tersebut membutuhkan tenaga tukang yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Kelompok tukang yang menjadi suatu komunitas pekerja terdiri dari orang yang selain berbeda keahlian (tukang batu, tukang kayu) juga dari pengalaman kerja (mandor, kepala tukang, kernet). Dalam suatu komunitas kerja tentunya membutuhkan suatu kekompakkan, komunikasi dan kepemimpinan agar tiap item pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu. Di sisi lain pemilik rumah tentunya menginginkan rumah yang dimilikinya dapat berdiri kokoh dan estetis sesuai dengan keinginannya.
Keinginan dari pemilik rumah ini yang menjadi target pelaksanaan bagi tukang agar apa yang mereka kerjakan dapat memuaskan hati dari pemilik selaku owner. Namun disisi lain kualitas motivasi bekerja tukang tidaklah selalu sama setiap saat. Ada hal-hal tertentu yang membuat pekerjaan tukang terhenti. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan proyek menjadi terlambat, tidak sesuai progress, bahkan mangkrak dilapangan.
Pada penelitian ini, peneliti mencoba mencari faktor penghambat motivasi bekerja bagi tukang/pekerja bangunan khususnya di kota Medan. Adapun pembagian wilayah adalah Medan Selayang, Medan Tuntungan dan Medan Johor. Pemilihan wilayah tersebut adalah dengan pertimbangan banyak proyek perumahan yang berkembang disana. Metode penelitian adalah dengan menggunakan kuesioner dengan pertanyaan terbuka dan wawancara.
Hasil akhir dari penelitian didapat bahwa faktor penghambat motivasi pekerja tukang bangunan dalam pelaksanaan pekerjaan adalah faktor internal (menyangkut hubungan komunitas tukang dalam kerja) dan faktor eksternal (menyangkut cuaca dan kondisi luar yang sudah ada tetapi menjadi penghambat). Tentunya penelitian ini nantinya menjadi gambaran pagi pelaku proyek lainnya yaitu pemilik (owner) maupun developer dan pengawas proyek untuk memahami faktor-faktor yang mengakibatkan tukang menjadi turun dalam kinerja dan motivasi.


Kata Kunci : tukang, bangunan, motivasi, penghambat, faktor

PENERAPAN SISTEM FUZZY LOGIC PADA MINIATUR SMART TRAFFIC LIGHT BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO UNO

Samaria Chrisna HS

Jurusan Teknik Elektro, Konsentrasi Elektronika dan Telekomunikasi
Institut Sains dan Teknologi Pardede (ISTP)
Jl. TD. Pardede No. 8 Medan


ABSTRAK
Peranan traffic light atau lampu lalu lintas memiliki peranan yang sangat penting dalam menciptakan kelancaran arus lalu lintas. Sistem pengaturan lampu lalu lintas yang baik akan secara otomatis menyesuaikan diri dengan tingkat kepadatan arus lalu lintas pada jalur yang diatur. Untuk menyesuaikan tingkat kepadatan, penerapan sistem fuzzy logic sangat memungkinkan dilakukan. Suatu sistem peralatan jika ditangani oleh sebuah arduino uno maka semuanya akan terasa lebih canggih, lebih pintar, lebih otomatis, lebih efisien, lebih aman, lebih teliti dan sebagainya yang menunjukkan keuntungan-keuntungan bila dibandingkan dengan pengerjaan secara manual. Untuk itu dilakukan rancangan Pengatur Lampu Lalu Lintas Dengan Menggunakan Fuzzy Logic Berbasis Arduino Uno. Dalam pembuatan lampu lalu lintas dengan menggunakan fuzzy logic maka tidak dibutuhkan untuk menghitung jumlah kendaraan yang masuk dalam persimpangan tersebut per jam ataupun per harinya. Dengan menggunakan sistem fuzzy pada pengaturan lampu lalu lintas, maka akan memudahkan pengguna jalan untuk memperlancar arus lalu lintas dimana jika pada satu persimpangan hanya sedikit kendaraan maka lamanya waktu hijau akan lebih pendek atau jika tidak ada kendaraan maka persimpangan tersebut akan dilewatkan untuk mendapatkan lampu hijau.

Kata kunci: Traffic Light, Fuzzy Logic, Arduino Uno.

PENGARUH PENERAPAN LEAN CONSTRUCTION
TERHADAP MINIMALISASI WASTE
PADA PROYEK KONSTRUKSI



Nurcita Utami Putri1) dan Anton Soekiman2)


1)Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
email: nurcita.utami@gmail.com

2)KBI Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Jurusan Teknik Sipil
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung


Abstrak

Industri konstruksi di Indonesia dihadapkan dengan proyek yang rumit dengan jangka waktu yang singkat, serta dituntut agar memaksimalkan fungsi dengan biaya minimal dan tidak mengesampingkan kualitas. Agar tantangan tersebut dapat dihadapi maka dibutuhkan metode untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas, serta untuk meningkatkan daya saing di industri konstruksi. Salah satu metodenya yaitu dengan lean construction. Lean construction merupakan suatu cara untuk mendesain sistem produksi yang dapat meminimalisasi pemborosan (waste) dari pemakaian material, waktu, dan usaha dalam rangka menghasilkan nilai yang maksimum. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lean construction terhadap minimalisasi waste pada proyek konstruksi. Jenis proyek konstruksi yang ditinjau adalah proyek konstruksi bangunan gedung berdasarkan kualifikasi usaha jasa konstruksi yaitu kualifikasi menengah dan besar yang berada di Provinsi Jawa Barat, Provinsi DKI Jakarta, dan sebagian Provinsi Banten. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode-metode lean construction sudah mulai diterapkan di proyek konstruksi, Nilai R2 diperoleh sebesar 0,793 maka dapat diartikan bahwa variabel independen (metode-metode lean construction) memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (minimalisasi waste) dengan persentase sebesar 79,30% yang menunjukkan adanya hubungan kuat. Model matematik penerapan lean construction terhadap minimalisasi waste, yaitu Y = 2,525 + 0,865X1 – 0,364X2 + 0,334X3 + 0,632X6, kemudian metode yang paling dominan terhadap minimalisasi waste yaitu value stream mapping dengan nilai SE sebesar 47,905%.

Kata kunci: Lean Construction, Waste, Value Stream Mapping


Abstract

The construction industry in Indonesia is faced with complex projects in short periods, required to maximize functions with minimal costs but not override the quality. In order to faced this challenge needed a method to improve efficiency and effectiveness, and to improve competitiveness in the construction industry. One of the method is lean construction. Lean construction is a method to design a production system which can minimize waste of material usage, time, and effort in order to produce maximum value. This research aims to examine the effect by applicating lean construction to minimize waste on construction projects. The types of construction projects reviewed are building construction projects based on the qualifications of the construction service, specifically medium and large  building qualifications in West Java, DKI Jakarta , and most of Banten. Based on the results of research it can be concluded that lean construction methods have begun to be applied in construction projects, R2 values obtained at 0,793 means that the independent variables (lean construction methods) have an influence on the dependent variable (waste minimization) with a percentage of 79,30% which indicates a strong relationship. Mathematical model of lean construction implementation on waste minimization, namely Y = 2,525 + 0,865X1 – 0,364X2 + 0,334X3 + 0,632X6, then the most dominant method for waste minimization is value stream mapping with SE value of 47,905%.

Keywords: Lean Construction, Waste, Value Stream Mapping

MODEL ESTIMASI KINERJA BIAYA KONSTRUKSI
DI INDONESIA


Brando Giovany Rasuh


Mahasiswa Pascasarjana, Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Sipil,
Universitas Katolik Parahyangan

brandorasuhsorong@gmail.com/08114856091


ABSTRAK
Pemilihan sistem pengadaan dianggap sebagai salah satu keputusan penting yang dilakukan selama proyek berlangsung sehingga sistem pengadaan yang sesuai diindikasikan sebagai persyaratan yang diperlukan untuk keberhasilan kinerja proyek, namun kondisi tersebut dianggap belum cukup karena terdapat variabel lain yang terkait seperti karakteristik tim proyek dan kinerjanya, serta kondisi eksternal yang juga terkait dengan keseluruhan kinerja proyek. Dengan menggunakan hirarki faktor yang dikembangkan oleh Dissanayaka dan Kumaraswamy (1997) yang berbasis di hongkong serta melakukan beberapa penyesuaian agar sesuai dengan yang digunakan di Indonesia, penelitian ini akan melakukan kajian pengaruh faktor-faktor pengadaan dan non-pengadaan terhadap kinerja biaya konstruksi dan memformulasikan keterkaitan masing-masingnya pada konteks Indonesia. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk melakukan mengkaji hubungan antara faktor-faktor tersebut dan kinerja biaya dengan menggunakan metode stepwise untuk mendapatkan model formula terbaik. Metode tersebut akan mereduksi variabel yang tidak signifikan dan hanya menyisakan variabel yang signifikan secara statistik. Hasil yang mengejutkan ditunjukan terkait pengaruh karaktersitik pengadaan lebih signifikan berkorelasi dengan kinerja biaya konstruksi ketika disandingkan dengan variabel-variabel lain seperti karakteristik proyek, karakteristik klien, karaktersitik kontrakor, karakteristik tim desain serta kondisi eksternal. Hasil tersebut tampaknya memberikan bukti yang kuat tentang dugaan adanya hubungan langsung antara kinerja biaya konstruksi dengan karakteristik sistem pengadaan di Indonesia. Kesimpulannya kinerja biaya konstruksi secara signifikan berkorelasi dengan luas bangunan, tipe proyek bangunan (Residensial), pengelompokan jenis proyek (Build, Operation & Transfer), karakteristik klien dan kondisi eksternal, dimana sistem pengadaan (Build, Operation & Transfer) menjadi variabel yang paling kuat berkorelasi dengan variabel kinerja biaya konstruksi di Indonesia.   

Kata Kunci: Model Estimasi, Sistem Pengadaan, Kinerja Proyek,  Biaya Konstruksi.


ABSTRACT
The selection of a procurement system is considered as one of the important decisions made during the project so that the appropriate procurement system is indicated as a requirement for the success of project performance, but this condition is considered insufficient because there are other related variables such as project team characteristics and performance, and conditions external which is also related to overall project performance. Using a factor hierarchy developed by Dissanayaka and Kumaraswamy (1997) based in Hong Kong and making some adjustments to fit those used in Indonesia, this study will examine the influence of procurement and non-procurement factors on construction cost performance and formulate linkages each in the Indonesian context. Multiple linear regression analysis was used to examine the relationship between these factors and cost performance using the stepwise method to get the best formula model. The method will reduce variables that are not significant and leave only variables that are statistically significant. Surprising results shown regarding the influence of procurement characteristics are more significantly correlated with construction cost performance when compared with other variables such as project characteristics, client characteristics, contractor characteristics, characteristics of the design team and external conditions. These results appear to provide strong evidence of the alleged direct relationship between the performance of construction costs and the characteristics of the procurement system in Indonesia. In conclusion the performance of construction costs significantly correlates with building area, type of building project (Residential), grouping of types of projects (Build, Operation & Transfer), client characteristics and external conditions, where the procurement system (Build, Operation & Transfer) is the most powerful variable correlated with variable construction cost performance in Indonesia.

Keywords: Estimation Model, Procurement System, Project Performance, Construction Costs.

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA KUANTUM BERBASIS MASALAH PADA PROGRAM STUDI S-1 FISIKA


Sumihar Simangungsong


Dosen Teknik Geologi
Institut Sains dan Teknologi TD.Pardede, Medan

Email: sumiharbwv79@yahoo.co.id


ABSTRAK
Penelitian dan pengembangan Bahan ajar Fisika Kuantum Berbasis Masalah ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar dan aktivitas mahasiswa terhadap pembelajaran fisika kuantum. Tujuan penelitian dan pengembangan bahan ajar ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar fisika kuantum berbasis masalah yang dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar mahasiswa.Sampel Penelitian ini adalah mahasiswajurusan pendidikan Fisika S1 pada semester empat di Universitas Negeri Medan (UNIMED). Pelaksanaa penelitian ini dilakukan pada mata kuliah fisika kuantum.Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development) yaitu pengembangan bahan ajar fisika kuantum berbasis masalah (problem based leraning).Penelitian pengembangan ini mengacu pada model pengembangan FourDTahap awal penelitian ini adalah pengembangan bahan ajar fisika kuantum berbasis masalah dengan mengacu standar BSNP. Setelah dikembangkan kemudian bahan ajar diujicobakan untuk melihat peningkatan hasil belajar mahasiswa. Untuk melihat hasil belajar dan aktivitas belajar mahasiswa instrumen yang digunakan adalah berupa tes hasil belajar dan angket observasi aktivitas belajar mahasiswa. Untuk menghitung validitas tes digunakan rumus Korelasi Product Momen dan untuk menghitung reliabilitas soal uraian digunakan rumus alpha-Cronbachdan pengujian instrumen tes hasil belajar adalah dengan menggunakan SPSS 17. Dari uji coba bahan ajar terhadap sampel penelitian didapat hasil bahwa bahan ajar yang dikembangkan layak menurut BSNP. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari uji gain sebanyak  tiga kali pertemuan yakni 1) pertemuan pertama gain pertama (G1) diperoleh sebesar 0,720 dengan kategori “sedang” 2) pertemuan kedua gain kedua (G2) diperoleh sebesar 0,807 dengan kategori “tinggi” 3)pertemuan ketiga gain ketiga  (G3) diperoleh sebesar 0,847 dengan kategori “tinggi”.Hasil penilaian aktivitas belajar mahasiswa diperoleh yakni 1) pertemuan pertama diperoleh  sebesar 55,84% dengan kategori “ cukup”2) pertemuan kedua sebesar 70,52 kategori “baik” 3) pertemuan ketiga sebesar 90,73 dengan kategori “sangat aktif”.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar fisika kuantum berbasis masalah layak digunakan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar mahasiswa.

Kata kunci : Penelitian dan Pengembangan, Bahan ajar berbasis masalah, Hasil belajar, Aktivitas belajar,
        FisikaKuantum

ABSTRACT
Research and development of teaching materials Problem Based Quantum Physics is based on the low learning outcomes and student activities towards learning quantum physics. The purpose of research and development of teaching materials is to see whether the teaching materials developed can improve learning outcomes and student learning activities. Samples of this study were students S1 University of Medan (UNIMED) Physical education majors in four semesters. Deploy this research is done in the course of quantum physics. This type of research is the development of research (Research and Development), namely the development of teaching materials based quantum physics problem (problem based learning). This refers to the development of research development model Four D. The initial phase of this research is the development of teaching materials based quantum physics problems by referring to the standard BSNP. After teaching material developed then tested to see an increase in student results. To view the results of learning and students 'learning activities instrument used was a questionnaire achievement test and observation of students' learning activities. To calculate the validity of the tests used Product Moment Correlation formula and to calculate the reliability of descriptions about the formula used Cronbach alpha and test achievement test is using SPSS 17. The testing of teaching materials to sample the result is that a decent teaching materials developed by BSNP , Improved learning outcomes can be seen from the test gain as many as three meetings namely 1) the first meeting of the first gain (G1) obtained by 0.720 the category of "moderate" 2) The second meeting of the gain of the second (G2) obtained by 0.807 the category of "high" 3) Meeting the third gain of the third (G3) obtained amounted to 0.847 with the category of "high". Results of votes obtained by the students' learning activities 1) The first meeting obtained by 55.84% to the category of "enough" 2) The second meeting of 70.52 categories of "good" 3) The third meeting at 90.73 with the category of "very active". It can be concluded that the teaching material based quantum physics problem worthy used to improve learning outcomes and student learning activities.

Keywords: Research and Development,Teaching materials Problem Based, Student Study Results, Aktivity of
                    learning, Quantum Physics


TRANSFORMASI BENTUK DAN PEMAKNAAN RAGAM HIAS GORGA PADA RUMAH BATAK TOBA DI PULAU SAMOSIR

Yulianto

Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Santo Thomas Medan
Jl. Setia Budi no. 479-F Tanjung Sari, Medan 20132, Indonesia

E-mail: yulibean97@gmail.com

ABSTRAK
Gorga adalah ragam hias berbentuk ukiran yang terdapat pada dinding dan struktur bagian luar dari rumah tradisional Batak Toba. Ragam hias gorga mempunyai fungsi sebagai penanda status pemilik rumah sekaligus sebagai perlindungan penghuni rumah. Setiap motif ragam hias Gorga mengandung arti simbolis berdasarkan pada sistem kepercayaan Batak Toba. Pembuatannya juga harus mengikuti aturan-aturan yang telah disepakati bersama dalam adat istiadat masyarakat tradisional Batak Toba dan tak boleh dilanggar. Dalam perkembangannya ragam hias gorga mengalami transformasi fisik maupun pemaknaan dengan penambahan nilai-nilai dari luar sistem masyarakat tradisional Batak Toba. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan metoda survei, wawancara dan kompilasi data visual. Analisa penelitian dilakuan dengan menggunakan metoda analisis matriks visual dengan pendekatan interpretasi-historikal.

Kata Kunci: Gorga, Kriya, Batak Toba, Transformasi Bentuk, Ragam Hias, Motif

ABSTRACT
For the Batak Toba in the North Sumatera, Indonesia, ornamental woodcarvings in the walls of the traditional Batak Toba house known as ‘gorga’ are used as a symbol to show the status of the homeowners as well as the magical protection for the inhabitants of the house. Each motif of the gorga has a symbolic meaning based on the belief system of the Batak Toba. The making of gorga before the house construction must follow certain rules that have been mutually agreed upon in traditional customs of Batak Toba society and should not be violated. In the development, the gorga undergo design transformation and meaning with the addition of values from outside the traditional Batak Toba community system. This paper focuses on developing an understanding of the logic of the design transformation in the gorga. The analysis was done using visual analysis method with the interpretive-historical research with certain design strategies.

Keywords: Gorga, Woodcarving, Batak Toba, Evolution of Shape, Motifs

FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB LELANG ULANG
PROYEK PEKERJAAN PADA
PELELANGAN SECARA ELEKTRONIK


Hermansyah1  dan Anton Soekiman2

1Jurusan Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Jl. Merdeka No.30  Bandung
Email: athalan_hermansyah@yahoo.com

2Dosen Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Jl. Merdeka No.30  Bandung
Email: soekiman@unpar.ac.id


ABSTRACT
                Along with the demands of public transparency which includes various elements, one of 
which is the procurement of goods / services electronically. Regarding the procurement mechanism, 
the government issued a regulation stipulated in the Presidential Decree No. 80 of 2003. Currently 
the latest regulations are regulated in Presidential Regulation No. 04 of 2015. Since the adoption 
of the Presidential Regulation, the government has massively made improvements to procurement 
governance starting with the introduction and implementation of electronic auctions that are
 expected to be able to maintain the application of the principle of procurement. Another issue 
that makes the auction less effective now is the absorption of the implementation budget which 
is still minimal or the amount of the remaining budget that is not realized in the implementation 
of activities. Determine the causes of the repeat auction so that the electronic auction can be
 minimized and expect that the absorption of the budget will not occur much at the end of the
 fiscal year. Research indicators obtained from the re-auction sub-variables obtained from previous
 studies of similar discussions, presidential regulations, interviews of experts in goods / services and 
books.

Keywords: Goods / Services, e-procurement, Variables, Indicators, and Perpres.

ABSTRAK
Seiring dengan tuntutan transparansi publik yang mencakup berbagai unsur salah satunya adalah pengadaan barang/jasa secara elektronik. Terkait mekanisme pengadaannya pemerintah mengeluarkan peraturan yang tertuang pada KEPPRES No. 80 tahun 2003. Saat ini peraturan terbaru diatur dalam Peraturan Presiden No. 04 tahun 2015. Sejak penerapan Peraturan Presiden tersebut, pemerintah telah secara masif melakukan perbaikan tata kelola pengadaan dimulai dengan pengenalan dan pelaksanaan pelelangan secara elektronik yang diharapkan dapat menjaga penerapan prinsip pengadaan. Isu lain yang membuat kurang efektifnya pelelangan saat ini adalah penyerapan anggaran pelaksanaan yang masih minim atau besarnya sisa anggaran yang tidak terealisasikan pada pelaksanaan kegiatan. Menentukan faktor penyebab terjadinya pelelangan ulang sehingga pelaksanaan lelang ulang secara elektronik dapat diminimalisir dan harapkan penyerapan anggaran tidak banyak terjadi di akhir tahun anggaran. Indikator-indikator penelitian yang diperoleh dari sub variabel pelelangan ulang yang diperoleh dari penelitian terdahulu pembahasan sejenis, peraturan presiden, wawancara ahli barang/jasa dan buku –buku.   

Keywords: Barang/Jasa, e-procurement, Variabel, Indikator, and Perpres.

PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP PENCAHAYAAN BUATAN SUASANA INTERIOR RESTORAN SUSHI TEI


Sanggam B Sihombing, ST., MT

Arsitektur, Institut Sains dan Teknologi TD. Pardede, Medan
Jl. DR. TD. Pardede No. 8, Medan 20153, Indonesia

sanggams@yahoo.co.id


ABSTRAK
Pencahayaan buatan merupakan salah satu aspek penting dunia arsitektur dalam desain interior karena tanpa pencahayaan, arsitektur itu sendiri tidak dapat dilihat dan dinikmati. Pencahayaan buatan  mempunyai peranan yang penting pada penampilan dan suasana restoran. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi pengunjung yang dimiliki oleh pencahayaan buatan khususnya pada interior ruang restoran dan penerapan pencahayaan buatan pada interior ruang restoran untuk menciptakan atmosfir ruang yang menarik, nyaman dan pengaruh pencahayaan buatan terhadap estetika.
Jenis penelitian menggunakan statistik kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung restoran Sushi Tei Sun Plaza dan restoran Sushi Tei Centre Point. Penelitian ini menggunakan metode probability sampling dengan teknik proportional random sampling. Untuk pengumpulan data-data umum dari setiap restoran Sushi Tei dilakukan dengan survei langsung di lokasi daerah tempat restoran berada. Hasil analisis persepsi pengunjung mengenai pencahayaan buatan pada restoran Sushi Tei dihitung menggunakan skala Likert dan diambil kesimpulan kategori interpretasi jawabannya.
Dalam hasil penelitian setiap pengunjung dilakukan melalui pembagian kuesioner kepada responden, dengan pernyataan : frekuensi kunjungan, alasan responden, waktu yang dihabiskan selama berada di restoran, dan kualitas pencahayaan buatan yang dikembangkan dari teori pencahayaan buatan,yaitu: pencahayaan buatan mempengaruhi suasana dan atmosfir, pencahayaan buatan memberikan nilai estetika, pencahayaan buatan yang digunakan sudah sesuai dengan desain tema, jarak pandang dari pencahayaan buatan sudah sesuai dan tidak menyilaukan  mata, dan saran yang direkomendasi oleh responden pada restoran, dari hasil analisis tersebut terdapat hasil dari persepsi pengunjung.
Kesimpulan dari setiap persepsi pengunjung pada pencahayaan buatan  restoran Sushi Tei Sun Plaza respoden setuju, sedangkan di restoran Sushi Tei Centre Point responden menanggapi cukup setuju dan setuju mengenai pengaruh pencahayaan buatan terhadap suasana dan atmosfir di dalam ruangan. Dari kedua sampel restoran Sushi Tei dengan 62 responden dari 100 kuesioner, maka pengunjung memilih restoran karena sedang berada di mall. Pengunjung kedua sampel restoran Sushi Tei kebanyakan menghabiskan waktu sekitar 30 menit-1 jam ketika berada di dalam restoran (46%), sedangkan 1 jam-2 jam ketika berada di dalam restoran Sushi Tei itu sekitar (40%) karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk makan dan menghabiskan sedikit waktu untuk berkomunikasi.

Kata kunci : pencahayaan buatan, suasana, tema, persepsi pengunjung, restoran, kuesioner responden.


ABSTRACT
Artificial lighting is one of the important aspects of the world of architecture in interior design because without lighting, architecture itself can not be seen and enjoyed. Artificial lighting has an important role in the appearance and atmosphere of the restaurant. The research objective was to determine the perceptions of visitors owned by artificial lighting, especially in the interior of the restaurant and the application of artificial lighting in the interior space to create the atmosphere of the restaurant space that attractive, comfortable and effect of artificial lighting on aesthetics.
This type of research is using quantitative statistics. The population in this study was the visitors of restaurant Sushi Tei Sun Plaza and restaurant Sushi Tei Centre Point. This study uses probability sampling with proportional random sampling technique. For general data collection from any restaurant Sushi Tei done directly on the location of the survey area where the restaurant is located. The results of the analysis of visitor perceptions of artificial lighting in the restaurant Sushi Tei is calculated using a Likert scale and drawn the conclusions interpretation category of the final answer.
In each visitor research conducted through the distribution of questionnaires to the respondents, with the statement: the frequency of visits, the reasons respondents, time spent while in the restaurant, and the quality of artificial lighting is developed from the theory of artificial lighting, was : artificial lighting affects the ambience and atmosphere, lighting artificial provide aesthetic value, artificial lighting is used are in accordance with the design theme, the visibility of artificial lighting is appropriate and does not dazzle, and suggestions recommended by the respondents in the restaurant, from the results of the analysis are the result of the perception of visitors.
Conclusion of each visitor perception in artificial lighting restaurant Sushi Tei Sun Plaza respondents agreed, while in the restaurant Sushi Tei Centre Point respondents respond quite agree and agree on the effect of artificial lighting to the mood and atmosphere in the room. Of both samples restaurant Sushi Tei with 62 respondents from 100 questionnaires, the visitors chose the restaurant because it was in mall. Visitors both samples restaurant Sushi Tei mostly spent about 30 minutes-1 hour when in the restaurant (46%), while the 1 hour-2 hours while in the restaurant Sushi Tei was approximately (40%) because of more time to eat and spend a bit of time to communicate.

Keywords: artificial lighting, atmosphere, theme, visitor perceptions, restaurants, questionnaire respondents.

KOMPARASI KINERJA MATERIAL KACA STIKER DENGAN KAIN JENDELA DALAM KENYAMANAN RUANG
(SISTEM PENCAHAYAAN)

Isniar Tiurma Leonora Ritonga, ST., MM., MT

Arsitektur, Institut Sains dan Teknologi TD. Pardede, Medan
Jl. DR. TD. Pardede No. 8, Medan 20153, Indonesia

isniarritonga@yahoo.co.id

ABSTRACT
This study aims to see the value of the efficiency of the Performance Comparison Of Glass Sticker And Window Curtain Material In Space Comfort (Lighting System) so that in the use of the material can achieve maximum efficiency value and become the source of reference / information in society so that in its use can produce the desired visual comfort.
This research uses grounded theory research method and field survey. The grounded theory approach is a common methodology of analysis associated with systematic data collection that is applied and uses a series of methods to generate an inductive theory of substantive areas (Martin and Turner, 1986). Aspects of this research are light intensity, usability, and ease of maintenance. Objects studied in this study is the teacher room and classroom at the school. The data that have been obtained are comparatively qualitative analyzed.
                The results showed that, glass sticker has a value of light intensity efficiency is higher than the window curtain. In terms of durability of use and ease of maintenance, window curtain is more resistant and easier to maintain than glass sticker. The window curtain can be maintained by washing and drying it every month. It can be concluded that window curtain has a better potential with higher efficiency than window curtain.

Keywords: comparative, glass sticker, window curtain, efficiency value, space comfort (lighting system)


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat nilai efisiensi dari komparasi kinerja material kaca stiker dan kain jendela dalam kenyamanan ruang (sistem pencahayaan) agar dalam penggunaan materialnya dapat mencapai nilai efisiensi yang maksimal serta menjadi sumber acuan/informasi dalam masyarakat sehingga dalam penggunaannya dapat menghasilkan kenyamanan visual yang diinginkan.
                Penelitian ini menggunakan metode penelitian grounded theory dan survey lapangan. Pendekatan grounded theory merupakan metodologi umum analisis terkait dengan pengumpulan data sistematis yang diterapkan dan menggunakan serangkaian metode untuk menghasilkan sebuah teori induktif tentang area substantif (Martin dan Turner, 1986). Aspek-aspek dalam penelitian ini berupa intensitas cahaya, ketahanan penggunaan, dan kemudahan pemeliharaan. Objek yang diteliti dalam penelitian ini merupakan ruang guru dan ruang kelas pada sekolah. Data yang sudah diperoleh dianalisis secara komparatif kualitatif.
                Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Kaca stiker memiliki nilai efisiensi intensitas cahaya yang lebih tinggi dibandingkan kain jendela. Dari segi ketahanan penggunaan dan kemudahan pemeliharaan, kain jendela lebih tahan dan lebih mudah dipelihara dibandingkan kaca stiker. Kain jendela dapat dipelihara dengan cara mencuci dan mengeringkannya setiap bulan. Dapat disimpulkan bahwa kain jendela memiliki potensi yang lebih baik dengan keefisienan yang lebih tinggi dibandingkan kaca stiker.

Kata Kunci : komparatif, ka ca stiker, kain jendela, nilai efisiensi, kenyamanan ruang ( sistem pencahayaan )

perancangan lantai dengan
gaya desain futuristik pada cinema lounge di medan

Liesbeth Aritonang1) dan Charleman2)

1) DIII Desain Interior, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP),
Institut Sains dan Teknologi TD.Pardede (ISTP),
Jl. DR.TD.Pardede No.8, Medan 20153, Sumatera Utara
liesbeth.aritonang@yahoo.com

2)Mahasiswa Jurusan DIII Desain Interior
Institut Sains dan Teknologi TD.Pardede (ISTP), Medan


ABSTRAK
Dunia hiburan yang terdiri dari berbagai aspek merupakan salah satu kebutuhan manusia yang juga merupakan salah satu peluang bisnis di sektor jasa dengan pasar potensial yang tidak pernah berhenti. Dunia Cinema yang bersaing dengan dunia cyber dengan pelanggan yang beragam, diperlukan sebuah sarana dengan interior unik, dan fasilitas yang mendukung serta kenyamanan dalam aspek interior. Sudah di ketahui bahwa Interior sebuah usaha juga merupakan aspek penting akan keberhasilan dalam tiap bisnis usaha yang dilakukan sehingga memberikan suatu ciri khas tersendiri yang berkesan.
Konsep Futuristik yang akan diaplikasikan pada interior Cinema Lounge ini, dimaksud akan menjadi suatu ciri khas dan daya tarik tersendiri serta pengguna dapat merasa nyaman saat menggunakan fasilitas yang di sajikan, khususnya pada zaman sekarang apalagi dengan pasar kota Medan. Bahan yang merupakan perpaduan lantai concrete dengan permukaan furniture yang mengkilap, penggunaan kaca dan aluminium memberikan suasana yang sangat futuristik, serta membuat para pengguna jasa merasa bahwa terbawa ke tempat lain sebelum menikmati sajian film pilihannya. Konsep Futuristik merupakan sebuah konsep yang dimana para designer interior dapat dengan bebas berekspresi di dalam ruangan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif.
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan serta analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa 1) Desainer Interior perlu dilibatkan dalam pengembangan Bisnis Cinema. 2) memberikan masukan secara keilmuan kepada pihak pengelola, agar dari segi Desain Interior lebih baik dengan memperhatikan analisa ilmu interior dan memadukan usur Futuristik sebagai salah satu wadah untuk memberikan nuansa dan konsep desain yang berbeda, serta 3) meningkatkan daya tarik dan penggunaan jasa lounge pada Cinema tersebut.

Kata kunci: Cinema lounge, Gaya desain Futuristik